Jumat, 12 Maret 2021

MATERI PENYULUHAN PERTANIAN PEMANFAATAN TANAMAN BERENUK SEBGAI BIOPESTISIDA DI DESA SUKAMAJU, KECAMATAN TAMBELANG.

 

PENYULUHAN INOVASI PERTANIAN

PEMANFAATAN BUAH BERENUK (Crescentia cujete L) SEBAGAI BIOPESTISIDA PENGENDALIAN OPT TANAMAN PADI (Oriza sativa L) DI DESA SUKAMAJU KECAMATAN TAMBELANG KABUPATEN BEKASI  JAWA BARAT 

Tanaman padi (Oriza sativa L) merupakan salah satu komoditas unggulan di Desa Sukamaju, Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi. Oleh karena itu, hampir sebagian besar petani di Desa Sukamaju membudi dayakan tanaman padi sawah. Salah satu tantangan dalam budi daya tanaman padi di Desa Sukamaju adalah relatif tingginya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) meliputi keong mas, tikus, wereng, hama putih palsu dan lain-lain. Apabila serangan hama tersebut tidak dilakukan pengendalian secara cepat dan tepat maka dapat menyebabkan penurunan produktivitas tanaman, bahkan kegagalan panen.

Secara umum, petani di Desa Sukamaju menggunakan pestisida kimia untuk mengendalikan hama di areal lahan sawah mereka. Intensifikasi penggunaan pestisida kimia dalam jangka panjang dikhawatirkan akan menyebabkan resistensi dan resurgensi hama, mematikan musuh alami tanaman, pencemaran lingkungan, dan penurunan produktivitas lahan pertanian serta berkurangnya mutu dan kualitas produk yang dihasilkan. Oleh karena itu, diperlukan inovasi pertanian terutama subsistem agroinput yang dapat mengendalikan hama tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem dan mutu produk pertanian.

Konsep pertanian organik merupakan teknik budidaya tanaman dengan mengandalkan bahan-bahan organik atau alami yang mudah terurai oleh alam. Salah satu teknik yang digunakan dalam konsep pertanian organik adalah dengan penggunaan pestisida nabati. Pestisida nabati dalam pertanian organik adalah racun bagi organisme pengganggu tanaman yang dibuat dari bahan-bahan alami maupun limbah organik.

Salah satu inovasi pestisida nabati yang dapat diaplikasikan oleh petani untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) adalah pestisida buah berenuk. Tanaman berenuk (Crescentia cujete L) merupakan tumbuhan yang memiliki buah yang beracun dan berbahaya serta isi buah yang hitam, lengket, dan berbau tidak enak (Atmodjo 2019). Hal ini menyebabkan masyarakat enggan untuk memanfaatkan buah berenuk. Keberadaan tanaman berenuk di Desa Sukamaju, Kecamatan Tambelang masih cukup mudah ditemukan.

Namun, kurangnya pengetahuan petani terhadap pemanfaatan buah berenuk menjadi pestisida nabati mengakibatkan tidak termanfaatkannya tanaman berenuk di Desa Sukamaju. Oleh karena itu, petani memerlukan adanya kegiatan penyuluhan dan pendampingan mengenai pemanfaatan berenuk sebagai pestisida nabati, sehingga diharapkan dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia di Desa Sukamaju, Kecamatan tambelang, Kabupaten Bekasi.

Uraian latar belakang di atas mendorong penulis untuk melakukan kegiatan praktikum mengenai penyuluhan inovasi pertanian pemanfaatan buah Berenuk (Crescentia cujete L) sebagai biopestisida pengendalian OPT tanaman Padi (oriza sativa L) di Desa Sukamaju, Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi, Provinsi  Jawa Barat.

HOW TO MAKE BERENUK PESTICIDE

Alat dan Bahan Pestisida Berenuk

Alat dan bahan yang harus dipersiapkan untuk membuat pestisida berenuk, antara lain:

1.    Buah berenuk 4 buah

2.    Daun mindi ½ kg

3.    Bawang putih 4-5 siung

4.    Air bersih 5 liter

5.    Sabun colek secukupnya

6.    Ember, gelas ukur, pengaduk, pisau, sendok dan sarung tangan

Cara Pembuatan Pestisida Berenuk

Cara pembuatan pestisida berenuk, antara lain:

1.    Buah berenuk dibelah menjadi 2 bagian, lalu keluarkan bagian isinya.

2.    Remas-remas daun mindi dengan diberikan air secukupnya

3.    Iris atau geprek bawang putih

4.    Campurkan isi buah berenuk, remasan daun mindi, potongan daun putih di dalam ember berisi air 5 liter air bersih

5.    Berikan sedikit sabun colek, kemudian aduk semua bahan hingga merata

6.    Fermentasi pestisida tersebut selama 24 jam

7.    Setelah difermentasi saring larutan pestisidanya

Kandungan kimia daging buah berenuk yang telah dilaporkan antara lain alkaloid,  flavonoid, saponin, tanin, polifenol,  vitamin  A, C, E, niasin, riboflavin,   thiamin,   karbohidrat,   dan   mineral-mineral   yang   mencakup natrium,  kalium,  kalsium,  fosfor,  dan  magnesium.  Sementara  itu,  bagian daun, kulit batang, dan akarnya  mengandung saponin dan  polifenol (Yani 2011).

Video materi penyuluhan dapat diakses pada link https://youtu.be/GS8ca-HrFF4

Video kegiatan penyuluhan dapat diakses pada link https://youtu.be/B7HZMeP2K5o

0 komentar:

Posting Komentar