RESUME INOVASI PERTANIAN BERKELANJUTAN
IMPLEMENTASI INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN ERA INDUSTRI 4.0
1. PENDAHULUAN
Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena >30% penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani. Namun, saat ini >30 juta petani Indonesia masih tergolong sebagai masyarakat menengah ke bawah. Hal tersebut tentunya harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah.
Pemerintah sebagai fasilitator dan regulator harus terus berupaya membangun pertanian Indonesia melalui pengoptimalan program-program maupun kebijakannya. Sesuai dengan visi dan misi presiden 2020-2024, yaitu terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dalam mensukseskan upaya pemerintah tersebut dibutuhkan generasi milenial yang bergerak disektor pertanian. Namun, perspektif negatif terhadap profesi petani menyebabkan menurunnya minat generasi muda di sektor pertanian. Saat ini hanya ada 8 % petani muda dari total petani Indonesia yang terjun ke dunia pertanian. Oleh karena itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memberikan arahan kepada generasi muda untuk ikut serta memajukan pertanian Indonesia melalui teknologi-teknologi pertanian.
2. TRANSFORMASI PERTANIAN TRADISIONAL KE MODERN
Saat ini secara bertahap pertanian indonesia telah mengalami transformasi dari pertanian tradisional ke modern. Hal tersebut dapat dilihat dengan penggunaan teknologi pertanian seperti traktor, mesin tranplanter, dan sebagainya. Pemerintah terus berupaya mengubah mindset petani dengan pemanfaatan teknologi. Diharapkan dengan penerapan teknologi yang optimal efisiensi dan produktifitas pertanian dapat meningkat sehingga dapat meningkatkan taraf kesejahteraan petani dan keluarganya.
Tabel. Transformasi Pertanian di Indonesia
|
Parameter |
Tradisional |
Modern |
Era Industri 4.0 |
|
Peralatan |
Manual/Ternak |
Mesin |
Mesin + Komputer |
|
Proses Produksi |
Lambat |
Cepat |
Sangat cepat |
|
Efektifitas |
Rendah |
Tinggi |
Sangat tinggi |
|
Efisiensi |
Rendah |
Tinggi |
Sangat tinggi |
|
Pelaku |
Petani Kolot |
Petani maju |
Petani Milenial |
|
Dimensi Waktu |
Terkungkung |
Terbuka |
Bebas |
|
Dimensi Ruang |
Terkungkung |
Terbuka |
Bebas |
|
Produktivitas |
Rendah |
Tinggi |
Sangat tinggi |
|
Ciri-ciri |
Varietas lokal, pupuk, organic,dll |
Bioscience. ICT, Alsintan, dll |
IoT, big data, artificial intelligence, sensor, dll |
3. REVOLUSI INDUSTRI TEKNOLOGI PERTANIAN
Pertanian terus mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Perubahan-perubahan tersebut berdampak pada efisiensi dan produktivitas pertanian yang semakin optimal. Secara umum tahapan revolusi industri terdiri dari 1.0 sampai 4.0. Namun, Jepang telah menyatakan bahwa telah memasuki revolusi industri 5.0 yaitu mengembalikan kejayaan peradapan manusia.
Adapun ciri-ciri industri di era 4.0 sebagai berikut :
1. Digitisation and integration of vertical and horizontal value chains, berarti adanya digitalisasi dan integrasi rantai nilai baik secara vertikal maupun horizontal.
2. Digitisation of product and service offerings, berarti digitalisasi penawaran produk dan pemberian layanan yang baik.
3. Digitisation business models and customer access, berarti digitalisasi model bisnis dan akses terhadap pelanggan.
Teknologi pertanian di era 4.0 mampu mengontrol seluruh kebutuhan yang diperlukan oleh tanaman meliputi mikro climate control, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit serta pemanenannya. Selain itu, proses distribusi dan pemasaran produk pun dilakukan secara digital yang memungkinkan produk sampai ke konsumen dalam keadaan baik. Uraian diatas sering kita sebut dengan smart Farming. Smart Farming ini merupakan salah satu cara bertani yang potensial di era 4.0, yang dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi dan efektivitas sehingga dapat meningkatkan daya saing produk pertanian.
4. TEKNOLOGI PERTANIAN INDONESIA ERA INDUSTRI 4.0
Indonesia sebagai negara potensial untuk mengembangkan pembangunan pertanian tentunya membutuhkan teknologi-teknologi yang memadai terkhususnya yang dikembangkan oleh instansi maupun generasi muda Indonesia. Saat ini terdapat teknologi seperti platform bisnis maupun alat mesin pertanian yang terus berkembang.
Salah satu platform yang dimiliki oleh Balitbangtan adalah KATAM TERPADU MODERN. KATAM TERPADU MODERN ini merupakan aplikasi yang menyediakan layanan informasi mengenai prediksi iklim, estimasi waktu dan luas tanam, estimasi hama dan penyakit, serta rekomendasi varietas, pupuk dan alsintan yang digunakan.
Teknologi alat mesin pertanian juga terus berkembang di Indonesia seperti traktot roda 4 tanpa operator. Traktor dimungkinkan dapat digunakan menggunakan remote kontrol sehingga petani tidak perlu terjun ke lumpur untuk membajak sawah.
Adanya teknologi alat deteksi unsur hara tanah dengan metode remote sensing. Alat ini dapat digunakan untuk mengetahui kandungan unsur hara yang terkandung di dalam tanah, sehingga petani dapat memberikan pupuk sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, alat ini juga dapat mengetahui tingkat kemasaman tanah.
Teknologi Sistem Irigasi Pintar (Smart Irrigation) yang dapat mengatur kadar dan kebutuhan air bagi tanaman. Hal ini dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan air di lahan pertanian, terutama daerah kering. Diharapkan dengan adanya teknologi ini, daerah yang mengalami kesulitan terhadap sumber air maupun daerah yang beriklim kering dapat meningkatkan produktifitas lahan pertaniannya. Selain itu, terdapat teknologi lain seperti Smart Green House, robot tanam padi, drone pemupukan, dan robot grafting.
Selain itu, dihilir juga terdapat teknologi distribusi dan pemasaran produk pertanian. Platform bisnis ini bergerak dibidang pengiriman produk pertanian ke konsumen. Platform yang bergerak antara lain sayur box, gojek, Grab, TaniHub, AYOMART dan sebagainya.
5. PETANI MILENIAL PERTANIAN ERA INDUSTRI 4.0 DI MASA PANDEMI COVID-19
Kehadiran petani milenial yang berkontribusi dibidang pertanian baik di hulu maupun di hilir memberikan dampak positif bagi Indonesia. Meskipun jumlahnya masih sedikit tapi pengaruhnya sangat besar terhadap pembangunan pertanian. Adapun petani-petani muda yang terjun ke dunia pertanian antara lain.
1. Jatu Barmawati (AYOMART)
AYOMART merupakan Start up E-Commerce bahan pangan. Saat ini AYOMART telah menyediakan 160 komoditas utama seperti sayuran dan buah-buahan. Lokasi AYOMART ada di Tangerang, Cimanggis, Yogyakarta.
2. Sandi Octa Susila (Kedai Sayur)
Sandi merupakan salah satu petani muda sukses yang bergerak pada usaha agribisnis sayuran yang beromzet sekitar Rp. 500.000.000/bulan. Saat ini sandi octa telah membawahi 50 karyawan dan memberdayakan 385 petani. Ia juga mampu mengelolah 120 Ha lahan sayur yang berlokasi di Kabupaten Cianjur.
3. Indra Bachtiar (Nudira Fresh)
Nudira Fresh ini ini berfokus pada kecanggihan teknologi hidroponik dengan greenhaouse. Komoditas yang diproduksi adalah tomat cherry. Omzet yang diperoleh oleh Indra berkisar 100 – 200 juta /bulan.
4. Pamitra Wineka (TaniHub group)
TaniHub berfokus pada permasalahan rantai pasokan dan distribusi hasil pertanian melalui teknologi. Tanihub menghubungkan petani dengan pasar untuk memungkinkan petani menjual produk pertanian dengan harga yang adil dan kuantitas yang berkelanjutan.
5. Sanny Gaddafi (8 villages)
8 village merupakan perusahaan teknologi dengan fokus untuk kemajuan pedesaan, di era industri 4.0 ini yang berkontribusi bersama para petani pedesaan agar dapat mengenal dan lebih dekat dengan teknologi.
6. PENUTUP
Berdasarkan uraian diatas dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
1. Untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi dan efektivitas maka kita harus melakukan transformasi dari pertanian tradisional ke pertanian era industri 4.0. Ciri-ciri dari era teknologi pertanian 4.0 adalah pemanfaatan IoT, big data, remote sensing, robot construction, dan artificial intelegence;
2. Smart farming adalah salah satu cara bertani era industri 4.0 yang potensial meningkatkan produktivitas, efisiensi dan efektivitas sehingga dapat meningkatkan daya saing produk pertanian;
3. Petani milenial sudah banyak berkiprah di bisnis pertanian baik di on farm (budidaya) maupun di olahan dan pemasaran (off farm) misalnya melalui penyedia market place, off taker, dll.
Sumber: Materi Kuliah Umum Bersama Kepala BPPSDMP
0 komentar:
Posting Komentar