PENYULUHAN INOVASI PERTANIAN
PEMANFAATAN BUAH BERENUK (Crescentia cujete L) SEBAGAI BIOPESTISIDA
PENGENDALIAN OPT TANAMAN PADI (Oriza sativa
L) DI DESA SUKAMAJU KECAMATAN TAMBELANG KABUPATEN BEKASI JAWA BARAT
Tanaman padi (Oriza sativa L) merupakan salah satu
komoditas unggulan di Desa Sukamaju, Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi.
Oleh karena itu, hampir sebagian besar petani di Desa Sukamaju membudi dayakan
tanaman padi sawah. Salah satu tantangan dalam budi daya tanaman padi di Desa
Sukamaju adalah relatif tingginya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
meliputi keong mas, tikus, wereng, hama putih palsu dan lain-lain. Apabila
serangan hama tersebut tidak dilakukan pengendalian secara cepat dan tepat maka
dapat menyebabkan penurunan produktivitas tanaman, bahkan kegagalan panen.
Secara umum,
petani di Desa Sukamaju menggunakan pestisida kimia untuk mengendalikan hama di
areal lahan sawah mereka. Intensifikasi penggunaan pestisida kimia dalam jangka panjang
dikhawatirkan akan menyebabkan resistensi dan resurgensi hama, mematikan musuh
alami tanaman, pencemaran lingkungan, dan penurunan produktivitas lahan
pertanian serta berkurangnya mutu dan kualitas produk yang dihasilkan. Oleh
karena itu, diperlukan inovasi pertanian terutama subsistem agroinput yang
dapat mengendalikan hama tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem dan mutu
produk pertanian.
Konsep pertanian organik merupakan teknik
budidaya tanaman dengan mengandalkan bahan-bahan organik atau alami yang mudah
terurai oleh alam. Salah satu teknik yang digunakan dalam konsep pertanian
organik adalah dengan penggunaan pestisida nabati. Pestisida nabati dalam
pertanian organik adalah racun bagi organisme pengganggu tanaman yang dibuat
dari bahan-bahan alami maupun limbah organik.
Salah satu inovasi pestisida nabati yang
dapat diaplikasikan oleh petani untuk mengendalikan Organisme Pengganggu
Tanaman (OPT) adalah pestisida buah berenuk. Tanaman berenuk (Crescentia cujete L) merupakan tumbuhan yang memiliki buah
yang beracun dan berbahaya serta isi buah yang hitam, lengket, dan berbau tidak
enak (Atmodjo 2019). Hal ini menyebabkan masyarakat enggan untuk memanfaatkan
buah berenuk. Keberadaan tanaman berenuk di Desa Sukamaju, Kecamatan Tambelang
masih cukup mudah ditemukan.
Namun, kurangnya
pengetahuan petani terhadap pemanfaatan buah berenuk menjadi pestisida nabati
mengakibatkan tidak termanfaatkannya tanaman berenuk di Desa Sukamaju. Oleh
karena itu, petani memerlukan adanya kegiatan penyuluhan dan pendampingan
mengenai pemanfaatan berenuk sebagai pestisida nabati, sehingga diharapkan
dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia di Desa Sukamaju, Kecamatan
tambelang, Kabupaten Bekasi.
Uraian latar
belakang di atas mendorong penulis untuk melakukan kegiatan praktikum mengenai penyuluhan
inovasi pertanian pemanfaatan buah Berenuk (Crescentia
cujete L) sebagai biopestisida pengendalian OPT tanaman Padi (oriza sativa L) di Desa Sukamaju,
Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi, Provinsi
Jawa Barat.
HOW TO MAKE
BERENUK PESTICIDE
Alat dan Bahan
Pestisida Berenuk
Alat dan bahan
yang harus dipersiapkan untuk membuat pestisida berenuk, antara lain:
1.
Buah berenuk 4 buah
2.
Daun mindi ½ kg
3.
Bawang putih 4-5 siung
4.
Air bersih 5 liter
5.
Sabun colek secukupnya
6.
Ember, gelas ukur, pengaduk, pisau, sendok dan sarung
tangan
Cara Pembuatan Pestisida Berenuk
Cara pembuatan
pestisida berenuk, antara lain:
1.
Buah berenuk dibelah menjadi 2 bagian, lalu keluarkan
bagian isinya.
2.
Remas-remas daun mindi dengan diberikan air secukupnya
3.
Iris atau geprek bawang putih
4.
Campurkan isi buah berenuk, remasan daun mindi, potongan
daun putih di dalam ember berisi air 5 liter air bersih
5.
Berikan sedikit sabun colek, kemudian aduk semua bahan
hingga merata
6.
Fermentasi pestisida tersebut selama 24 jam
7. Setelah difermentasi saring larutan pestisidanya
Kandungan kimia daging buah berenuk yang telah dilaporkan antara lain alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, polifenol, vitamin A, C, E, niasin, riboflavin, thiamin, karbohidrat, dan mineral-mineral yang mencakup natrium, kalium, kalsium, fosfor, dan magnesium. Sementara itu, bagian daun, kulit batang, dan akarnya mengandung saponin dan polifenol (Yani 2011).
Video materi penyuluhan dapat diakses pada link https://youtu.be/GS8ca-HrFF4
Video kegiatan penyuluhan dapat diakses pada link https://youtu.be/B7HZMeP2K5o